Archive | September, 2016
30 Sep

Dear, 30 September 2016

Hari ini tepat 7 tahun tragedi gempa dahsyat yang bersumber dari Pantai Padang Barat, yang sempat melumpuhkan Kota Padang, menelan korban jiwa cukup banyak, memporakporandakan harta benda bahkan gedung yang menjulang tinggi dengan kokohnya. Tragedi ini sempat membuat hati teriris melihat sanak saudara seprovinsi menangis kehilangan rumah, harta, bahkan keluarganya. Tragedi ini sempat membuat trauma dan waswas akan terjadinya tsunami di kota Padang. Mungkin ini bukan gempa yang pertama untuk kota Padang, tetapi ini merupakan gempa terhebat dari sekian gempa yang terjadi sekitar 10 tahun terakhir. Gempa yang memutuskan kota satu ke kota lainnya, gempa yang menimbun banyak korban jiwa dengan reruntuhannya, gempa yang amat teramat membekas dibenak seluruh warga bahkan perantau yang mungkin tidak merasakan namun ikut menangisi kejadian tersebut.

Kini sudah lewat 7 tahun setelah kejadian tersebut, dan kota Padang pun sudah kembali berdiri dan bangkit dari keterpurukannya dulu. Pemerintah daerah kota Padang sudah kembali membangun kota Padang yang hancur lebur menjadi kota yang kembali Indah, Bersih, dan penuh Sopan Santun.

p_20160922_161845

Tidak hanya kota Padang yang sering diguncang gempa, kota lain di Sumatera Barat pun sering sekali terkena gempa, Bukittinggi. Kota yang tidak kalah indah, menarik, menyejukkan jiwa dan raga ini pun sering sekali diguncang gempa, dari gempa “ece-ece” sampai gempa yang teramat dahsyat pun pernah. Mungkin ini terjadi karena Sumatera Barat terletak ditengah-tengah 2 lempengan bumi yang sewaktu-waktu bergeser dan bergesekkan. Alhamdulillah hingga detik ini, keluarga tidak kurang apapun, selamat lahir bathin dari bencana apapun itu. Tapi mungkin rumah yang ada kini bukanlah rumah yang asli dulu tapi sudah di renovasi sekian kali, tapi syukur alhamdulillaah masih ada aja itu udah cukup 🙂

Untuk mengenang 7 tahun gempa itu, maka aku pengen cerita sedikit banyaknya tentang kampung halaman ku, Bukittinggi. Setelah sekian tahun tidak pulang dan lupa seperti apa kampung halaman itu, maka akhirnya ada rejeki dan waktu untuk menginjakkan kaki lagi dikampung halaman yang indahnya bukan main. Aku menyesal kenapa baru sekarang ada rejeki dan waktu untuk bisa balik lagi. Aku menyesal kenapa tidak berlibur kesana aja dari dulu daripada harus kekota orang, toh kota sendiri gakalah indah kok. Seminggu disana memang kurang, rasanya pengen nambah lagi, rasanya gamau pulang ke Jakarta, rasanya mau tinggal disana aja, rasanya sedih harus ninggalin kota itu lagi, rasanya rasanya rasanya hmmm :’)

p_20160917_174821Hari pertama disana, disambut oleh temen seperjuangan di Vokasi dulu, Shabrina. Dia memang sudah pulang kerumahnya, dia sudah tidak menjadi anak rantau di Depok, tapi dia berhasil membuat kita di Jakarta kangen berat dengannya, dan aku berkesempatan membuang segelintir rindu ku dan rindu temen2ku padanya. Dia menjemputku dan membawa ku mengelilingi Bukittinggi, “Bukittinggi itu kecil rika, cuma ada Ngarai Sianok, kebun binatang bukittinggi, dan Jam Gadang” -Shabrina, tapi dengan kecil itu bisa bikin rika kangen banget dan pengen balik kesana lagi :’)

p_20160918_093002_pnHari kedua aku berhasil dibuat berdecak kagum dengan indahnya Danau Maninjau, yang bisa diliat dari Puncak Lawang, dan melewati Kelok 44. Emang hebat luar biasa Allah membuatkan jalan berkelok sebanyak 44 itu. Alami tanpa rekayasa, hanya dirawat dan diperbaiki jalannya jika buruk.

p_20160918_172705_pnMasih ada Danau Singkarak yang tidak kalah indahnya. “Ini sih bukan danau, tapi laut” pendapatku ketika sampai. Tapi percayalah ini memang danau yang dalamnya berpuluh2 kilometer sehingga memang terkenal banyak menelan korban jiwa, dalam setahun ini saja sudah 7 mobil dan manusianya yg hilang saat melewati Tiang 7 pada malam hari.

https://www.dropbox.com/s/mt9hyuqwuebtp41/V_20160918_180754.mp4?dl=0

p_20160919_145734_pnSelain ada Kelok 44 yang terbuat alami oleh ciptaan Allah SWT, maka ada lagi Kelok 9 yang diresmikan oleh Presiden SBY pada tahun 2009 terletak di Payakumbuh, Sumbar. Mungkin dalam foto diatas tidak terlihat jelas mana kelok 9 nya, namun jika kesana maka akan merasakan sendiri sensasi kelok 9 nya.

Payakumbuh memiliki beberapa wisata yang alamnya sungguh indah, Lembah Arau adalah salah dua dari wisata tersebut. Namun, ketika ku kesana bertepatan dengan musim keringnya sehingga tidak terlihat Arau nya yang indah. di Lembah Arau 2 berdiri Rumah Gadang lengkap dengan Bagonjong rumah khas Padang, Sumatera Barat. Namun rumah gadang itu milik pribadi, pengusaha hebat dari Arab.

p_20160920_073855di Koto Gadang pun terdapat wisata yang bisa disandingkan dengan Tembok Cina, dikenal dengan Janjang Seribu. Dimana dibawah atau samping dari Janjang Seribu ini terdapat Ngarai (Jurang). Janjang seribu ini memang memiliki 1000 anak tangga.

https://www.dropbox.com/s/6y67pf5xy7l7iz3/V_20160920_075850.mp4?dl=0

Dalam perjalanan menuju Gunung Kerinci pun ada 1 lagi wisata yang gakalah bagus, namanya Danau Atas Bawah atau Danau Kembar yang terletak diatas puncak dinginnya melebihi dingin dari Puncak di Jawa Barat. Tapi sayangnya kini sudah tidak terawat dikarenakan beberapa hal, namun indahnya belum pudar. Sempet dipikir sih, “ini danaunya atas bawah, kayak bertingkat gitu” dikirain kan danaunya beneran atas bawah ya, ternyata………p_20160920_120435_pnDanau ini mengapit 1 kampung hmm entah kampung atau daerah ya sebutnya, pokoknya dia mengapit yang hijau-hijau ditengah itu. Disebelah kiri atas terlihat (samar-samar) bukit yang dimana disitulah letaknya Danau Bawah, dan disebelah kanan yang dekat bukit itu lah Danau Atas. Mengapa disebut seperti itu? karena Danau Bawah terletak di dataran rendah, maka sebenernya kita bisa datang kesana langsung, Danau Atas terletak di dataran tinggi dan kita tidak bisa melihat disana hanya bisa melihat dari atas puncak dimana aku berdiri saat itu.

https://www.dropbox.com/s/b5hn7hhez29amq5/V_20160920_120338.mp4?dl=0

Sumatera Barat bisa dibilang lengkap sih ya, disana ada Danau, Bukit, Gunung, dan Pantai lepas pun ada. Kemaren aku dikasih kesempatan buat ke Pantai Tiram yang terletak di Kota Pariaman. Pantai disana sepi bangeeet, emang disana dilarang untuk berenang, snorkling, atau slancar sih. Disana cuma tempat buat menikmati pantai aja sambil makan ditepi pantai, karena disana banyak saung-saung untuk menikmati ikan nya yang terkenal enak.

https://www.dropbox.com/s/qkevnnkwybpi3gh/V_20160922_120522.mp4?dl=0

Ya itulah pengalaman ku kembali ke kampung halaman, belum bisa move on sih, masih pengen disana, pengen balik kesana lagi. Semoga nanti ada waktu dan rejeki lagi buat balik kesana 🙂